Sebulan itu
Posted on Wednesday, February 25th, 2009 at 1:09 pm34 hari aku berada dirumah, mulai dari tanggal 16 januari 2009 jam 3 sore, hingga tanggal 19 februari 2009 jam 10 pagi. 34 hari yang meberi sebuah lapisan kokoh untuk pondasi hidup kedepan.
Dirumah, hal pertama yang ingin kulakukan adalah memiliki waktu lebih dengan keluarga besarku ; mama, papa, adik adiku, kakek, nenek, tante, om, bu’de, pakde serta kakakku yang baru nikah bulan desember kemarin. Seingatku, inilah waktu paling banyak bersama mereka selama aku masih bisa mengingat. Yang kutahu pasti, dalam sebuah keluarga besar ada masalah masalah yang hanya diketahui orang orang tua saja. Para anak anak hanya menjadi pelengkap, kadang mereka juga malah menjadi masalah itu sendiri. Baru kali ini aku tahu masalah yang ada di keluarga besarku, mulai dari masalah keluargaku sendiri, masalah kakek dan nenek, masalah tanteku, dan masalah bu’deku. Entahlah, mungkin kemarin itulah saatnya aku diberi kepercayaan untuk mengetahui masalah masalah tersebut serta ikut memikirkan bagaimana solusi terbaiknya. Baru kali ini aku merasa diikutkan dalam sebuah masalah keluarga yang rupanya rumit, njelimet, mumet. Tapi, disinilah ajang untuk aku belajar, disinilah aku akan menimba ilmu bagaimana memiliki sebuah keluarga besar. Sebuah keluarga besar yang hanya tampak riak dipermukaan, tapi memiliki arus yang desar didasarnya.
Dirumah juga aku belajar untuk membagi waktu bersama keluarga besar agar tak ada rasa cemburu karna tak dikunjungi. Disini juga aku banyak bertukar pendapat dengan mereka. Disini juga aku punya waktu untuk Berkumpul bersama. Waktu yang telah kuhilangkan dengan egoisnya selama 9 tahun belakangan.
Dirumah juga aku memiliki waktu yang lebih banyak dengan papa dan mama. Aku malah jarang berkumpul bersama teman teman yang notabenenya hanya untuk pergi tertawa tawa saja. Aku lebih sering ngobrol dengan papa, mencoba mengambil sedikit demi sedikit ilmu berdagangnya, ilmu kemandiriannya yang telah ia pelajari sejak beliau kelas 1 SD. Dengan ilmu itulah ia membiayai sekolahnya dari SD hingga tingkat SMA. Dengan itu jugalah ia mulai membangun kehidupannya sendiri yang ia mulai dari nol di kotaku sekarang. Aku juga banyak belajar akan kesederhanaanya, prinsip “ jika tak ada, ya gak apa apa, gak usah dipaksakan “ itu melekat erat diotak hingga saat ini. Dia adalah sosol ayah yang mau melakukan apa saja demi anaknya. Beliau adalah seorang pegawai BRI yang mengajarkanku bagaimana beternak ayam pedaging, bagaimana beternak itik petelur, bagaimana berladang cabe, bagaimana berladang buncis, bagaimana berladang semangka, bagaimana cara berbisnis. Sosok ayah yang baru kusadar, bahwa aku bangga memiliki dia, walau baru kusadar setalah umurku hampir menginjak umur 22 tahun. Waktuku bersama mama juga lebih banyak dari yang ada selama ini. Dialah sosok utama dalam kehidupan ini. Beliau adalah sosok yang mengajarkan aku bagaimana harus bertanggung jawab akan sebuah kepercayaan. Walau waktuku bersama mama mungkin hanya waktu makan malam, dan setelah jam 10 malam. Tapi waktu yang sedikit itu banyak memberikan aku tawa, banyak memberikanku senyum bahagia. Sesuatu yang dulu jarang akan kudapatkan selagi aku dirumah.
Tujuan keduaku pulang kemarin, tak lain karna elvi. Selama 4 minggu dirumah, waktu 2 mingguan kami habiskan berdua. Jarak dari rumahku kerumahnya lebih kurang 70 Km, dan tak lebih dari 3500 Km kuhabiskan diatas motor selama sebulan dirumah. Sebulan dirumah banyak mengajarkan aku hal hal baru tentang dirinya. Jujur kuakui memang selama dirumah banyak masalah yang terjadi dengannya. Kadang, sehari bisa ribut 3 kali. Tapi, disaat inilah aku belajar sebaik baiknya. Belajar bagaimana menyelesaikan masalah dengan cara mengkotak kotakkan sebuah masalah besar menjadi masalah masalah kecil yang bisa dilesesaikan secara sistematis, satu persatu. Belajar bagaimana cara untuk mengalah lebih baik lagi. Belajar bagaimana tak memaksakan kehendak sendiri. Bagaimana cara menghargai pengorbanan dirinya yang tak pernah bisa kulihat dari sudut pandangku.
Tujuan ketigaku pulang adalah untuk mebangun sebuah pondasi bisnis yang bisa kunikmati nanti, jika aku harus pulang dan bener bener berwitraswasta. Mencari celah celah bisnis yang bisa menjadi tambahan pendapatan. Mencari bisnis offline yang bisa kukerjakan, jika benar nanti aku akan kembali kerumah. Serta, bagaimana cara untuk memulainya. Disini peran papa sangatlah besar artinya, belaiu menjadi salah satu konsultan terpentingku. Pandangan beliaulah yang menjadi acuanku, walau kadang ada yang bisa kutambahkan dari itu. Itulah gunanya mengenal teknologi dan mengenal kota besar dengan ratusan jenis bisnis yang belum ada didaerah.
Tujuan keempatku adalah pemetaan hidup untuk lima tahun kedepan. Walau tak sepenuhnya berhasil, tapi paling tidak, saat ini aku telah memiliki gambaran bagaimana aku 5 tahun kedepan, aku telah memiliki sedikit gambaran apa yang akan aku lakukan, dan apa yang ingin aku capai 5 tahun kedepan.
Tujuan kelimaku, tak lain dan tak bukan adalah tentang kehidupan pribadiku sendiri. Setelah bertukar fikiran dengan seluruh keluarga besar, maka aku putuskan untuk menikah pada umut 24-an. Tapi, aku membuat kepada diri sendiri. Sebelum aku menginjak tahap itu, aku sudah mapan. Minimal aku telah memiliki sepetak tanah beserta bangunan diatasnya.
Pulang kali ini benar benar membawa sejuta manfaat bagiku. Semenjak menginjakkan kaki dijogja aku hanya berfikir untuk beraksi. Jika Cuma sebuah rencana tanpa aksi, maka rencana itu hanya menjadi sebuah pikiran basi yang tak akan berguna sedikitpun. It’s Show Time.
chayoo….
yang semangat yang mas.
Moga semua mimpi dan citanya tercapai.Amin…